Gunung Padang, Situs Ritual 3 Peradaban

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sesuai jadwal yang direncanakan, Sabtu (11/5), Tim Ekspedisi jalur darat memasuki pos 3, yaitu Gunung Padang yang terletak di Kab. Cianjur, Jawa Barat. Selain Tim Ekspedisi, tim pendukung yang terdiri dari Fortuga beserta keluarga serta rekan-rekan media pun juga hadir untuk ikut berdiskusi mengenai situs Gunung Padang. Continue reading

[Siaran Pers] Potensi Bencana Alam di Bandung dan Sekitarnya

SIARAN PERS

Ekspedisi Fortuga “Genteng – Seribu”

POTENSI BENCANA ALAM DI BANDUNG DAN SEKITARNYA

Bandung Purba

Bandung, 13 May 2013

Fortuga (Forum 73), sebuah komunitas alumni ITB angkatan 1973 yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu menyelenggarakan diskusi dengan topik “Menata Cekungan Bandung Melalui Pemberdayaan dan Kearifan Lokal”, di Galery Architecture ITB, Minggu (12/5). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Ekspedisi “Genteng – Seribu”  yang diselenggarakan dalam rangka 40 tahun Fortuga. Continue reading

Menengok Jejak Suram Tambang Emas Liar Sukabumi

IMG_5513

MERDEKA.COM. Forum Tujuh Tiga (Fortuga) yang merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1973 pada 27-28 April melaksanakan ekspedisi bertajuk Genteng Seribu. Ekspedisi yang dilakukan untuk merekam fakta potensi sumber daya alam dan masalah di Pantai Selatan Jawa Barat ini diawali dari Ujung Genteng, Sukabumi.

Ketua Ekspedisi Fortuga, Iwan Bungsu, mengatakan dari segi geologi, di wilayah Pantai Selatan Jawa Barat memang terdapat endapan pasir besi dan endapan emas. Hal inilah yang menarik warga lokal untuk melakukan penambangan secara liar atau yang biasa disebut gurandil. Continue reading

Jelajah Fortuga ITB (3) : Pemuka adat melek teknologi

Suasana di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa barat, Ahad (28/4). (merdeka.com/vincent asido panggabean)

Umurnya baru 28 tahun. Namun Abah Ugi sudah menjadi pemuka adat Kasepuhan Ciptagelar sejak enam tahun lalu. Dia menggantikan ayahnya, Abah Anom (Encup Sucipta), meninggal pada 2007.

Abah Ugi mengaku membawahi 568 kampung tersebar di tiga kabupaten, yakni Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat serta Lebak di Provinsi Banten. Sebelum menetap di Ciptagelar, leluhurnya berpindah-pindah tempat sesuai wangsit.

Mereka pernah menetap di Ciptarasa. Abah Ugi mengungkapkan ayahnya telah memperoleh wangsit untuk pindah ke Ciptagelar pada 1998. Setelah yakin, baru tiga tahun kemudian Abah Anom bersama keturunan dan pengikutnya menjalankan pesan itu. Pilihannya cuma dua, pindah atau mati dan yang diwajibkan pindah itu cuma delapan keluarga,” kata Abah ugi kepada merdeka.com, Ahad pekan lalu. Tapi di luar itu terserah. “Mau pindah boleh, tidak mau juga tidak apa-apa.”

Ada yang berubah sejak mereka pindah. Menurut Abah Ugi, semasa bermukim di Ciptarasa, warga baru mengenal teknologi sebatas radio pemancar AM. Tapi di Ciptagelar, bukan sekadar sudah ada pemancar FM, mereka telah memiliki stasiun radio diberi nama Ciptagelar Radio.

Bahkan, mereka sudah mendirikan stasiun televisi bernama Ciga TV. Meski begitu, Abah Ugi menegaskan warganya tetap memegang tradisi. “Sejak 1980-an ke bawah, memang tidak ada listrik, teknologi baru masuk paling baterai lalu radio nyalanya tiga bulan sekali,” ujar Abah Ugi. Namun ketika ayahnya memimpin, dia mencari tahu bagaimana mendapatkan teknologi baru tanpa mengganggu kehidupan adat.

Abah Ugi menjelaskan pada 1988 ayahnya membuat turbin air dengan kayu blebek buat membangkitkan listrik. Tenaga dihasilkan sekitar tiga ribu watt dan mampu menerangi 50 rumah. Ayahnya membuat itu secara otodidak.

Pada 1990-an, ayahnya membangun ulang pembangkit listrik tenaga air menggunakan dua kincir untuk menerangi dua desa, Sinaresmi dan Sirnagalih. Namun turbin hanya mampu bertahan dua tahun lantaran pemakaian warga melebihi kapasitas. mereka kemudian mendapat bantuan dari Jepang buat membangun turbin mampu menghasilkan 80 ribu watt listrik. Karena sudah lama dan ada yang rusak daya keluar kini hanya setengahnya. Sekarang Desa Sirnagalih sudah masuk listrik dari PLN.

Meski cuma tamatan SMA, Abah Ugi mengaku sudah tertarik soal teknologi sejak SD. Bahkan istri abah, Emak Alit, mengatakan abah sudah bisa merangkai radio sejak SMP kelas tiga dan bikin petasan sedari SD.

Abah Ugi pun memiliki idola selain ayahnya dalam hal teknologi. “Pokoknya yang membangun kemajuan bagi seluruh dunia abah suka, seperti Thomas Alfa Edison dan Graham Bell.” [fas]

Vincent Asido Panggabean – Merdeka.com

Sumber : http://www.merdeka.com

Jelajah Fortuga ITB (1) : Jalan terjal menuju Kampung Adat Ciptagelar

Tim ekspedisi Fortuga ITB menuruni bukit sepulang dari Kampung Ciptagelar, Sukabumi, Ahad (28/4) . (merdeka.com/vincent asido panggabean)

Sabtu pekan lalu, saya mendapat kesempatan mengunjungi kampung adat dari Kasepuhan Ciptagelar bersama alumni Institut Teknologi Bandung angkatan 1973 tergabung dalam tim Fortuga (Forum Tujuh Tiga). Ini bagian dari ekspedisi untuk merekam potensi sumber daya alam dan masalah di pantai selatan Jawa Barat. Tujuan penjelajahan pertama dengan bus wisata ini adalah Ujung Genteng, Sukabumi.

Di sana kami menggelar upacara pembukaan dan kemudian menuju Pelabuhan Ratu buat makan siang. Sorenya, kami ke Kampung Ciptagelar. Setiba di Cicadas, kami harus meneruskan perjalanan menumpang truk telah menunggu. Saya ingat saat itu sekitar pukul tujuh malam.

Rombongan kami berjumlah 17 orang. Dua orang duduk di depan bareng sopir, sisanya berhimpitan di bak truk. Kami terpaksa duduk meringkuk bersama barang bawaan.

Ternyata, medan berat harus dilalui memang tidak mungkin memakai bus. Dengan lebar jalan hampir sama dengan badan truk, jurang menganga di sisi kanan, dan tanpa penerangan, membuat perjalanan kami semakin menegangkan.

Sesekali truk kami harus mendaki ketinggian cukup tajam dan menuruni jalan curam sembari ditemani hujan lebat. Bahkan, ketika kami ingin melewati sebuah jembatan kayu, sopir truk turun untuk melakukan ritual. Dia mengambil dua ranting pohon dan berdoa sambil berjongkok di pinggir jalan. Dia barangkali minta izin lewat dari penguasa setempat.

Tidak sampai dua jam, kami tiba di Dusun Adat Ciptagelar, terletak di Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Kami lantas memasuki rumah panggung dari kayu disebut Rumah Gede atau rumah utama dalam kampung itu.

Kasepuhan Adat Ciptagelar kini dipimpin oleh Abah Ugi. Saya tadinya membayangkan sosoknya sudah tua, serius, dan penuh tata krama. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika diperkenalkan dengan Abah Ugi dan istrinya Emak Alit (bernama asli Destri Dwi Delianti, 24 tahun). Ternyata lelaki bernama lengkap Ugi Sugriana Rakasiwi ini jauh dari lamunan saya.

Umurnya masih 28 tahun. Gaya bicaranya santai, tidak mengesankan dia seorang tokoh adat. Kami melepas malam sambil duduk bersila di lantai dapur. Kadang, di sela obrolan juga terselip candaan.

Di dapur berukuran 6 x 8 meter persegi itu terdapat empat tungku api dengan kayu bakar berjejer di atas tungku. Seorang bapak turut tinggal di Rumah Gede bersama abah mengatakan api di dapur itu tidak boleh mati. Selain untuk memasak, asap dihasilkan dapat menghangatkan rumah dan memperkuat bangunan. Para pengikut abah di rumah itu juga sudah mempunyai tugas masing-masing.

Capek dan takut di sepanjang perjalanan seolah sirna oleh kehangatan Abah Ugi bersama Emak Alit, dan para pembantu mereka. Kami banyak bertanya seputar adat berlaku di sana. Setelah puas berbincang, abah dan istrinya masuk ke ruangan belakang menjadi kamar pribadi. Kami kemudian tidur di ruang tamu beralas tikar. [fas]

Vincent Asido Panggabean – Merdeka.com

Sumber : http://www.merdeka.com

 

Keteguhan Tradisi & Kecanggihan Teknologi di Kampung Ciptagelar

Pernah mendengar perkampungan yang namanya Cipta Gelar?

Cipta Gelar, atau Kasepuhan Cipta Gelar terletak di lereng Gunung Halimun, dengan ketinggian sekitar 1.050 m di atas permukaan laut. Lokasi ini berjarak sekitar 30 km dari Pelabuhan Ratu, dan dapat di capai dengan menggunakan kendaraan bermotor, baik mobil ataupun motor. Namun, megingat kondisi jalanan yang berbatu, meliuk dengan tanjakan yang terjal, sebaiknya datang kesini dengan menggunakan mobil jenis SUV yang sudah dibekali dengan sistem penggerak empat roda (four wheel drive/ 4WD).

Tim Ekspedisi Fortuga “Genteng Seribu” akhirnya menjejakkan kaki di kampung yang ditata dengan apik ini pada Sabtu (27/4), nyaris tengah malam. Kedatangan di Cipta Gelar yang sebelumnya di rencanakan sekitar pukul 19.00 WIB terpaksa mundur sekitar 4 jam karena adanya kendala selama perjalanan. Pilihan rute menuju Cipta Gelar dari Pelabuhan Ratu – Cisolok – Cikadu  ternyata tidak terlalu ramah bag bis Big Bird yang ditumpangi sebagian besar peserta. Begitu tiba di terminal Cicadas, yang masih setengah perjalanan lagi menuju Cipta Gelar, peserta terpaksa berganti kendaraan: truk dan mobil jenis SUV. Perjalanan dilanjutkan dibawah gerimis yang datang mengusir kabut malam.

Abah Ugi, sang pimpinan ke XI masyarakat yang dikenal dengan sebutan Banten Kidul ini menyambut dengan ramah. Bersama istrinya yang jelita, yang dipanggil dengan sebutan Ma’ Alit kemudian mempersilakan rombongan yang berjumlah sekitar 80 orang itu berbenah, membersihkan diri kemudian menyantap hidangan yang sudah di sediakan.

Meski sudah nyaris tengah malam, namun aktivitas di dalam rumah panggung besar bernama Imah Gede ini masih terlihat sibuk. Abah Ugi berbincang dengan tamu sambil di temani Ma’ Alit yang membiarkan putra semata wayang mereka tertidur di pangkuannya.  Di dapur yang disebut Dapur Gede, juga masih terlihat kesibukan. Tungku batu masih menyala dengan panci-panci besar terjerang di atasnya. Beberapa perempuan muda merajang bawang merah, sekelompok laki-laki menyeduh kopi. Dapur Gede pun tak kalah luasnya, sehingga beberapa tamu pun ada yang memilih tidur di sini.

IMG_5533

Mengisi malam dengan berbincang bersama Abah Ugi

Imah Gede adalah rumah yang setiap harinya menampung tamu. Bangunan kayu ini juga menyatu dengan bangunan lain yang lebih kecil, tempat kediaman Abah Ugi dengan keluarga kecilnya. Imah Gede tidak pernah sepi dari tamu. Selalu ada yang datang dan pergi, apakah itu pelancong, para pendaki yang hendak menjelajah Halimun, mahasiswa peneliti atau rombongan studi tour, pintu Imah Gede  senantiasa terbuka.

IMG_5557

Imah Gede

Sejarah yang tertinggal di lereng Halimun

Adalah satu masa di awal abad ke 14, saat dimana Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjajaran dikejar-kejar oleh Kerajaan Mataram dari Banten. Prabu Siliwangi dan pegikutnya kemudian mencoba melarikan diri ke pulau Christmas (Australia) melalui Pantai Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi. Namun karena ombak Samudra Hindia yang sedang pasang, pelarian tersebut gagal. Prabu Siliwangi pun akhirnya meminta para pengikutnya untuk mencari jalan sendiri menyelamatkan diri. Konon kabarnya, para pengikut Prabu Siliwangi berpencar ke empat arah mata angin, lor (utara),kulon (barat), wetan (timur) dan kidul (selatan).

Sekelompok pengikut yang menuju selatan, akhirnya mendiami kawasan gunung Halimun. Di sini, mereka yang akhirnya dikenal dengan nama masyarakat adat Banten Kidul bermukim, nenek moyang Abah Ugi. Menurut Abah Ugi, Kasepuhan tersebut bermula pada tahun 1368. Sejak itulah, komunitas ini menjalankan kehidupan sebagai masyarakat petani dan beternak yang tetap teguh memegang adat dan tradisi.

Ada satu tradisi menarik disini, yaitu larangan untuk memperjual belikan padi maupun hasil olahan turunan padi. Padahal, Ciptagelar adalah tanah yang kaya akan padi. “Padi pangan utama kita, pantang di perjual belikan. Kalau pada di jual, lalu kita makan apa? Ntari uang gampang, tapi kalau nyari padi, kemana hendak dicari?” begitulah penuturan Ma’ Alit mengenai padi. Meski demikian, jika ada warga yang kekurangan, ataupun pendatang yang membutuhkan padi, tradisi mewajibkan mereka untuk memberi.

Keteguhan atas tradisi lokal, terutama mengenai padi terlihat dari jenis padi yang di tanam, yaitu padi varietas lokal yang sudah berumur kurang lebih 640 tahun. Masa tanam pun hanya satu kali dalam setahun. Padi-padi hasil panen kemudian di simpan di lumbung yang di namakan leuit. Selain menyimpan   di leuit milik sendiri, warga juga harus menyisihkan hasil panennya untuk disimpan di lumbung komunal yang disebut leuit si jimat.

Image

Demikian bijaksana konsep atas padi dipegang teguh masyarakat Cipta Gelar sebanding dengan keindahan alam yang dimilikinya. Hamparan padi dengan batang yang lebih panjang serta bulir yang berwarna keemasan ditimpa sinar matahari, dan tidak ketinggalan jajaran leuit yang membuktikan kekayaan alam negeri di lereng Halimun ini.

Tradisi lain yang juga mengagumkan adalah tradisi pindah kampung dengan membawa baris kolot (para pembantu kasepuhan) berikut rumah dan isinya. Pindahan tersebut dilakukan bukan karena pemukiman mereka terkena banjir atau bencana, namun karena adanya wangsit dari leluhur. “Kalau ada wangsit dari leluhur, disuruh pindah kemana ya harus pindah,” jelas Abah Ugi.

Cipta Gelar sendiri baru didiami oleh Abah Ugi dan masyarakatnya sejak 14 tahun yang silam. Sebelumnya, masyarakat yang maish dipimpin oleh Abah Anom, ayahanda dari Abah Ugi bermukim di kampung Ciptarasa. Suatu ketika di tahun 2001, Abah Anom mendapat wangsit dari leluhur untuk memindahkan kampung ke Cipta Gelar yang berjarak 14 km dari Ciptarasa. Mereka pun secara bergotong royong mulai membangun kehidupan baru di Ciptagelar.

Teknologi di balik gunung

Meski kampung Ciptagelar berada jauh dari kehidupan kota yang hingar bingar dengan teknologi, bukan berarti masyarakat terasing dari kemajuan zaman. Listrik, televisi, radio, handphone dan internet bukanlah istilah asing disini. Semua fasilitas tersebut dikembangkan sendiri oleh masyarakat Ciptagelar.

Di tanah yang selalu ditutupi kabut ini, berdiri sebuah stasiun radio dan televisi dengan peralatan sederhana, namun mampu menjangkau hingga Sumedang. Namun karena satu alasan, jangkauan siaran Ciga TV sekarang hanya 25 km. Keberadaan radio dan televisi Ciga tersebut praktis menjadi hiburan dan media informasi bagi masyarakat untuk saling berkabar berita.

Ekspedisi Fortuga Kedepankan Kearifan Budaya Dalam Pengelolaan SDA

Merdekaonline.com – Jakarta – Alumni ITB angkatan 1973 yang beranggota mahasiswa-mahasiswa alumni ITB professional dari berbagai disipilin ilmu tengah berulang tahun yang ke-40.

Forum Tujuh Tiga (Fortuga) yang menjadikan para alumni ITB 1973 mempunyai wadah untuk selalu bersama didalam eratnya satu sama lain diantara para alumni sehingga setiap ada kegiatan yang dilakukan dalam Fortuga selalu terpesan sosial yang bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda untuk mengenal alam dan mengetahui kondisinya saat ini.

Terbesit mengenalkan alam dan kondisinya saat ini kepada generasi muda,Fortuga di hari jadinya ke-40 akan melakukan ekspedisi menelusuri 10 titik yang terlebih dahulu sudah terinvestigasi oleh Tim Fortuga di sepanjang lintasan yang akan dilalui oleh para ekspidisi mulai dari ujung genteng di Jawa Barat sampai Kepulauan Seribu di Utara Jakarta sejauh 300 KM.

Menurut Iwan Bungsu,Ketua Ekspedisi Fortuga,kami mengapresiasikan di hari jadi forum kami para alumni ITB 73 ke-40 dengan melakukan ekspedisi Fortuga mulai dari lintasan selatan di Ujung Genteng sampai di utara Kepulauan Seribu.”Lintasan ekspedisi ini menelusuri 10 titik mulai dari Pos 1 di Ujung Genteng yang awal pemberangkatannya mulai malam ini (27/4) sekitar jam 24.00 WIB dan berakhir pada 28 Mei di Kepulauan Seribu,” jelasnya dalam pemaparan teknis Ekspedisi Fortuga di Sekretariat Fortuga,Jakarta,Jumat (26/4).

Lebih lanjut,Iwan menjelaskan,bahwa pada lintasan petama,tim ekspedisi akan melakukan lintasan darat sepanjang 250 KM dan pada lintasan kedua akan melakukan perjalanan sejauh 300 Km melalui lintasan sungai.”Untuk lintasan sungai,tim ekspedisi akan menelusuri sungai Citarum dengan menggunakan kayak dan perahu karet yang dimulai dari hulu,” pungkas Iwan yang mengklaim paling tua diantara para alumni ITB angkatan 73 itu.

Selain itu,kata Dia,ekspedisi bukan hanya sebagai jalan-jalan atau destinasi belaka,namun ekspedisi-pun mempelajari alam dan kondisinya dari setiap yang kita singgahi baik kultur masyarakatnya maupun alamnya.”Maka dari itu setiap persinggahan mualai dari Pos 1- Pos 2,kita akan mendengarkan pemaparan yang akan disampaikan oleh para ahli di setiap bidangnya sesuai hasil studinya dalam ekspedisi ini,” jelasnya.

Hal menarik disini,tambahnya,kita-pun akan melakukan pemotretan dan pemvideoan dari udara sepanjang ekspedisi berjalan mulai dari ujung genteng-kepulauan seribu.”Hasil dari pemotretan dan video akan kami terbitkan dalam bentuk buku dan film,” ujarnya.

Sementara itu,Ketua Umum Peringatan 40 Tahun Fortuga,Jusman SD mengatakan,pastinya ekspedisi Fortuga ini ingin memberikan sesuatu yang menjadi inspirasi bagi generasi muda terutama bagaimana agar para penerus ini dapat mengenal alam dan lebih jauh mengetahui kondisi alamnya pada saat ini.”Terutama dalam pengelolaan lingkungan dan SDA dengan mengedepankan kearifan budaya kita,’ ungkap mantan Menteri Perhubungan RI di era Presiden Gusdur ini.

Ekspedisi ini,lanjut Jusman,merupakan langkah awal dan kecil dari Fortuga sebagai anak bangsa untuk bersama-sama komunitas lainnya merekam fakta,memotret dan menganalisa persoalan dari berbagai disiplin ilmu.”Dan kita kedepankan dalam upaya-upaya pembahasan dalam pengelolaan SDA serta pelestarian lingkungannya,” tuturnya.

Perlu untuk diketahui,bahwa dalam rangka hari jadinya ke-40,Fortuga bukan hanya melakukan Ekspedisi Fortuga saja,namun juga melaksanakan sejumlah kegiatan yang antara lain,Gerakan pembangunan 3,7 juta sumur resapan,Leadership Camp untuk 73 remaja dhuafa di Jawa Barat dan Jawa Tengah,Ekspedisi Bhakesra,Konser Amal Jazzy Blues Session (Charity Program) yang bekerjasama dengan Yayasan Penyandang Anak-anak Cacat (YPAC),Fortugathlon,”Home Coming Alumni Angkatan 73″ dan Pargelaran Budaya.(SR)

Selany Ranu – MerdekaOnline.com

Sumber : http://www.merdekaonline.com

Fortuga Ajak Generasi Muda Memahami Pengelolaan Alam dan Lingkungan

Jurnas.com | FORUM Alumni Institut Teknologi Bandung angkatan Tujuh Tiga (Fortuga) melakukan berbagai aktivitas sosial untuk memberikan pemahaman terkait pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam untuk generasi muda Indonesia.

Komunitas angkatan pertama Institut Tekhnologi Bandung (ITB) ini pada tahun sebelumnya telah menggelar sejumlah diskusi, seminar, kegiatan olahraga dan kesenian serta kegiatan yang bersifat sosial dan pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah di Jawa.

Pada tahun 2013 ini, memperingati ulang tahun ke 40 Institusinya, Fortuga akan menggelar ekspedisi menelusuri sejumlah wilayah mulai di Ujung Genteng, Jakarta juga ke beberapa tempat di Jawa Barat sampai ke Kepulauan Seribu. Kegiatan ini dilakukan untuk mendiskusikan masalah penambangan, sosial, dan pencemaran lingkungan yang ditemukan di wilayah tersebut.

“Dalam rangka ulang tahun ke 40, Fortuga menggelar sejumlah kegiatan diantaranya membangun 3,7 juta sumur resapan, leadership camp untuk 73 remaja dhuafa di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Juga menggelar ekspedisi Bhakesra, konser amal jazzy blues session untuk amal bekerjasama dengan Yayasan Penyandang Anak–Anak Cacat (YPAC) serta pagelaran budaya,” kata Ketua Expedisi Fortuga, Iwan Bungsu di Jakarta, Jumat (26/4).

Melalui kegiatan ekspedisi ini, kata iwan, memiliki pesan sosial untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia mengenal alam dan lingkungan. Juga mengetahui kondisi lingkungan yang rusak sehingga dapat solusi untuk setiap masalah yang ditemukan di perjalanan sebagai tantangan pengelolaan alam di masa mendatang.

Tim dari ekspedisi ini juga akan mengunjungi rumah bersejarah di Rangasdengklok, tempat aktivis muda menculik bung Karno dan bung Hatta. Dalam kegiatan ini, akan didiskusikan peranan pemuda dalam perubahan masyarakat.

Juga pada lintasan di Batujaya sampai ke Muara Gembong, kata dia, ahli Geologi Fortuga, Dr Haposan akan menjelaskan seluk beluk industri migas di Pantura, Jawa Barat. Pada Muara Bendera, tim Fortuga juga akan membantu masyarakat lokal menanam pohon bakau di pesisir.

Sebagai penutup perjalanan, tim akan melakukan penanaman bibit karang di Kepulauan Seribu. “Di muara Citarum saat ini, hanya tersisa hutan bakau yang sangat tipis sehingga menimbulkan ancaman abrasi di wilayah pesisir. Ekspedisi ini, akan melihat bagaimana usaha warga masyarakat biasa dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungannya,” kata Iwan.

Kegiatan ini merupakan sebuah usaha bersama komunitas perhimpunan pendaki gunung Wanadri dan komunitas pengarung sungai Arus Liar untuk memotret dan menganalisa persoalan dari berbagai disiplin ilmu serta membahas upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan.

Dokumentas dari ekspedisi ini akan didokumentasikan dalam bentuk buku dan film.

Musdalifah Fachri – Jurnas.com

Sumber : Jurnas.com

Fortuga Gelar Eskpedisi Jakarta dan Jawa Barat

Jurnas.com | FORUM Alumni Institut Teknologi Bandung angkatan 73 (Fortuga) akan menggelar ekspedisi menelusuri sejumlah tempat mulai dari Ujung Genteng di selatan, menuju Selatan Jawa Barat sampai ke Kepulauan Seribu di wilayah Jakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk mendiskusikan masalah penambangan, sosial, dan pencemaran lingkungan dalam sejumlah wilayah yang dilewati dengan melibatkan para pakar tambang dan geologi ITB.

“Ekspedisi ini dilakukan memperingati 40 tahun Fortuga mengambil jalur darat dan sungai ini dimulai tanggal 27 April sampai tanggal 28 Mei 2013. Ada 10 pos dimana satu pos mencakup dua wilayah yang akan dilewati dalam perjalanan ini yaitu Ujung Genteng, Cipta Gelar, Cidahu, Camp Bravo, Gunung Padang, Gua Pawon, Cekungan Bandung, Danau Cisanti, Saguling, Jatiluhur, Rangas Dengklok, Batujaya, Muara Gembong, Muara Bendera, dan Pulau Seribu,” kata Ketua Umum Peringatan 40 tahun Fortuga, Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (26/4).

Menurutnya dalam perjalanan ini akan melewati lintasan darat dan laut oleh tim yang berbeda. Pada pos pertama, tim fortuga akan melihat komunitas masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul yang masih menjalankan cara tradisional bercocok tanam selama 600 tahun di lereng gunung Halimun. Di wilayah Cidahu, seluruh tim juga akan bergabung dengan camp leadership yang gelar untuk anak kurang mampu (dhuafa).

Tim dari Fortuga, kata dia, juga akan mendaki gunung Gede dan Pangrango untuk mengambil dokumentasi foto dari udara. Tujuannya untuk melihat kerusakan daerah tangkapan hujan yang mengalir ke sungai Cisadane dan sungai Ciliwung.

“Taman Nasional Halimun, Salak dan maupun Taman Nasional Gede Pangrango merupakan kawasan kritis sebagai tangkapan hujan untuk Ciliwung dan Cisadane,” kata Jusman.

Hasil temuan para pakar ini nantinya akan dibahas dalam pertemuan alumni ITB yang digelar di Bandung melibatkan sejumlah pakar diantaranya Dr Andang Bachtiar (Himpunan Ahli Geologi Indonesia) Dr Danny Hilman (LIPI), Dr Hasan Djafar (Arkeologi UI) T. Bachtiar dan Dr Budi Brahmantyo (Kelompk Riset Cekungan Bandung).

Lintasan darat dari ekspedisi ini akan mengtutup dengan ulasan mengenai peradaban bandung Purba di Gua Pawon dan masalah tata ruang di Cekungan Bandung.

Musdalifah Fachri – Jurnas.com

Sumber : Jurnas.com

Menyelamatkan Bumi Indonesia Lewat Ekspedisi Fortuga

Ekspedisi Fortuga dimulai 27 April dan berakhir 28 Mei. (Foto: Istimewa)

FIMELLE.COM — Banyak cara dilakukan masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan dan sumber daya alam di Bumi Indonesia.

Contoh kecil program penyelamatan lingkungan di antaranya menanam pohon bakau, membuat sumur resapan, dan menyelamatkan terumbu karang di laut.

Aksi-aksi tersebut akan dilakukan Fortuga (Forum 73) melalui ekspedisi bernama Ekspedisi Fortuga.

Fortuga merupakan forum berisi para alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1973 atau yang masuk ke ITB pada 1973. Anggota mereka di antaranya Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, Pengamat Ekonomi Rizal Ramli, mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Fatchy Mohammad, dan Iwan Bungsu.

Ekspedisi dimulai Sabtu (27/4) dengan start Ujung Genteng dan berakhir di Kepulauan Seribu pada 28 Mei 2013. Selama beberapa hari, tim akan menelusuri 10 titik menarik di sepanjang lintasan utara menuju selatan Jawa Barat dengan melalui perjalanan darat sejauh 250 kilometer.

“Ekspedisi ini memeringati 40 tahun Fortuga. Tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk memotret keanekaragaman sumber daya alam, flora dan fauna Indonesia semua keindahan negeri ini. Dengan begitu ini memberi rangsangan dan inspirasi kepada masyarakat untuk mencintai bangsa dan negara melalui pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam,” jelas Ketua Panitia Ekspedisi Fortuga Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (26/4).

Menurut Ketua Fortuga Iwan Bungsu, 10 titik yang akan ditelusuri di antaranya Ujung Genteng, Desa Cipta Gelar, Gunung Padang, Gua Pawon, Cekungan Bandung, Jatiluhur, Rengasdengklok, Muara Gembong, dan Kepulauan Seribu.

Lintasan pertama adalah melalui darat sepanjang 250 kilometer yang akan ditempuh dengan sepeda gunung, motor trail, dan mendaki gunung.

Lintasan kedua sejauh 300 kilometer menggunakan kayak dan perahu karet dengan menyusuri Sungai Citarum. Perjalanan dimulai dari hulu di Danau Cisanti di lereng Gunung Wayang. Beberapa pos menarik yang akan disinggahi dan diamati di antara Waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Rengasdengklok, dan Batujaya.

“Di setiap titik nanti aka nada ahli-ahli di bidangnya. Misalnya ahli geologi, arkeologi, dan kelompok riset cekungan. Hasil dari ekspedisi ini akan dipelajari untuk kemudian dicari solusi dari setiap permasalahan yang muncul,” lanjut Jusman.

Sementara itu, Iwan mengatakan, Ekspedisi Fortuga juga akan melihat upaya-upaya warga sekitar yang dilalui mengenai cara mereka dalam membantu pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam.

“Ekspedisi ini merupakan langkah kecil Fortuga sebagai anak bangsa untuk bersama komunitas lainnya merekam fakta, memotret, dan menganalisa persoalan dari berbagai disiplin ilmu serta membahas upaya pegelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan,” papar Iwan.

Dokumentasi Ekspedisi Fortuga akan diterbitkan dalam bentuk buku dan film. Dokumentasi foto dan film akan diambil dari darat dan udara.

Pelaksanaan lapangan ekspedisi ini akan dibantu Perhimpunan Pendaki Gunung Wanadri dan komunitas pengarung sungai Arus Liar. (Dian)

Sumber : Fimelle.com